Oleh: arcivmetri | Agustus 15, 2008

DESAIN RUANG TERAPI BAGI ANAK AUTIS

Autis adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia tiga tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudah ada sejak lahir.

       Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (savant).Anak penyandang autistik mempunyai masalah atau gangguan dalam bidang :

1. Komunikasi

2. Interaksi sosial

3. Gangguan sensoris

4. Pola bermain

5. Perilaku

6. Emosi

      Gangguan dalam bidang-bidang seperti tersebut diatas dapat berbeda-beda pada setiap penderitanya. Hal inilah yang menyebabkan pembinaan yang diberikan pada setiap anak akan berbeda sehingga perilaku autis pada mereka dapat dikurangi. Begitu juga dengan penderita autis yang tergolong dalam jenis autis savant yang pada kenyataannya bila pembinaan dan pelatihan yang diberikan dapat berjalan dengan baik, maka anak yang bersangkutan dapat diarahkan dan dilatih sehingga dapat terampil pada bidang keilmuan tertentu yang menjadi keahliannya. Kasus semacam ini juga pernah terjadi pada tokoh keilmuan fisika, Albert einstein, yang ternyata juga mengidap autis savant.

       Anak penderita autis, pada umumnya memiliki tingkat kejelian yang tinggi dalam hal visualisasi (Indrawati.2003, Bayi autis ‘bayi baik’. jawa pos.14 agustus 2003, hal.35) sehingga dalam pemberian materi pembelajarannya, pengajar menggunakan metoda-metoda pembelajaran yang menggunakan alat peraga konkrit berupa bentuk dua dimensi maupun bentuk benda tiga dimensi.        Kepekaan penderita autis ini dalam hal visualisasi ini juga menyebabkan adanya traumatis terhadap suatu warna tertentu, yang kemudian dapat menyebabkan anak tersebut menjadi hiperaktif dan resah. (Grandin, 2002)

1

 

       Disamping kepekaan terhadap warna dan visualisasi, anak autis juga dapat terganggu dengan adanya suara-suara yang berintensitas tinggi, seperti suara bel sekolah atau derit kursi yang dipindah. Suara bising seperti ini juga dapat menyebabkan anak autis dapat berperilaku buruk dan menyebabkan efek traumatis yang mendalam.

       Metoda pembinaan dan pendidikan anak autis ini juga dilakukan dengan metoda terapi yang dilakukan diruangan khusus. Misalnya pada terapi pendengaran, anak autis akan dimasukkan dalam ruang musik yang didalamnya nanti, musik akan menjadi media terapi yang dapat melatih anak untuk mengikuti irama musik dan memberikan dampak ketenangan pada dirinya. Sedangkan penanganan terapi one on one, Terapi diberikan secara personal yaitu satu murid dengan satu terapis dalam satu ruangan. Namun terapi ini juga akan diselingi dengan terapi pembelajaran secara klasikal, yaitu pembinaan dengan beberapa orang anak autis dalam satu waktu. Hal ini dapat dimaksudkan untuk dapat melatih jiwa sosialisasi anak terhadap orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. sip.. akan lebih bagus lagi bila paparan diatas disertai oleh faktor2 penyebab autis sarta dampak-dampak dan jenis2 terapinya😀

    • terima kasih atas masukan dan sarannya.🙂 akan kami coba untuk melengkapi desain tersebut dengan data2 yang lebih akurat.sekali lagi terima kasih

  2. sip..dilengkapi visualisasi ruang autis yg udah didesain doong…

    btw..terimakasih infonya krn kebetulan sy sedang mengerjakan tugas akhir ttg ruang terapi anak autis..=)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: